Mar 28, 2011

Wanita Dan Penyakit Gangguan Syaraf

Posted by Jeng Sri Hanniffy
Diskusi tentang kaum hawa selalu menjadi topik yang menarik, unik, tak ada habisnya dan meninggalkan misteri. Tidak heran kalau kaum para pelahir bibit manusia ini menjadi topik terpopuler di kalangan para psychologist dan psychoanalyst.

Seorang ahli human behaviorist (tingkah laku manusia), yaitu Sigmund Freud menyelidiki tentang femininity selama beberapa tahun riset. Kontribusi Freud untuk wanita ini bisa ditemui pada karya ilmiahnya yang dibukukan khusus dalam beberapa volumes yang di publish oleh Vintage books dari London.

Salah satunya tulisan ilmiahnya  tentang femininity yang ditulis pada tahun 1903-an adalah diambil dari pasiennya yang bernama Dora. Dora dipercaya oleh Freud memiliki Hysteria (Penyakit gangguan syaraf), atau saat ini lebih dikenal dengan nama Personality Disorder atau depression. 

Kasus Dora itu sendiri diurai oleh Freud, yang menurutku di urai layaknya benang kusut. Dora memiliki complicated feelings atas dirinya sendiri sebagai seorang wanita; reaction-formation (perasaan benci untuk cinta dan cinta untuk benci) atas perasaanya pada seorang pria menikah yang ia cintai sekaligus membencinya; ketidakbahagiaan atas sikap ibu kandungnya; perselingkuhan atas cinta segitiga yang ia tidak inginkan namun sekaligus ia mengharapnya; dan pertanyaanya yang dalam tentang siapa dan apa wanita sesungguhnya. 

Beberapa hal yang dialami oleh Dora ini dipercaya oleh Freud sebagai gejala penyakit dari gangguan syaraf. Yang menarik perhatian para psychoanalyst (ahli jiwa) lainnya adalah, hingga penemuan ini dikembangkan menjadi tidak hanya gangguan syaraf namun juga ditemukan oleh ahli jiwa lainnya yaitu Lacan bahwa kemungkinan gejala ini sebagai neurotic disorder, namun Freud yakin tentang penyebab dari gangguan syaraf  ini berasal dari masa childhood.

Dua akar utama yang sangat berperan pada masa childhood adalah Oedipus Complex dan Catration Complex kelak berpengaruh pada perkembangan personality seseorang menjelang dewasa — pendapat ini  tidak sepenuhnya diterima oleh psychoanalysists seperti BF Skinner dan Lacan yang mengatakan bahwa childhood bukanlah akar utama yang menyebabkan seseorang memiliki personality disorder.

Oedipus complex yaitu hubungan kompleks antara anak dengan orang tua, ini biasanya terjadi pada masa balita sampai 9 tahun, yaitu keingingan seorang anak yang terlalu berlebihan atas perasaan kedekatannya terhadap salah satu orang tuanya. Nama Oedipus itu sendiri diambil dari sebuah legenda Yunani, yaitu seorang anak yang ingin membunuh ayahnya untuk dapat menikahi ibunya.

Sementara catration complex di definisikan oleh Freud kecemasan atau ketakutan atas genetikal yang dimilikinya. Wanita, menurut Freud, pada masa balita memiliki kecemburuan ingin memiliki genetikal seperti pria. Entah Freud telah menemukan sesuatu yang briliant tentang wanita atau memang ini hanya kebetulan, namun hal ini mengingatkanku pada beberapa gerakan wanita diseluruh dunia pada era 60-an hingga saat ini, yaitu perjuangan wanita yang ingin memerdekakan  ‘kewanitaan’-nya, yang disebut-sebut sebagai existensi dari  feminitas: bahwa wanita memiliki hak yang sama dengan pria!

Anak laki-laki pada saat masa balita castration complex memiliki arti kebalikannya yaitu kecemasan akan kehilangan genetikalnya (penisnya). Teori definisi Castration complex ini di buktikan pada salah satu pasiennya Freud, yang bernama Hans yang berumur 3 tahun. Hans sangat cemas jika suatu hari ia kehilangan penisnya karena ia melihat seorang anak kecil perempuan sebayanya tidak memiliki genetikal yang sama dengannya, hal ini membuatnya berpikir: “mungkinkah suatu hari aku akan kehilangan penisku” — inipun mengingatkanku pada beberapa kenyataan phenomena bahwa tidak jarang pria yang merasa takut kehilangan ‘posisi’-nya: hanya phenomena yang kebetulan sajakah?

Kembali pada topik wanita. Lalu apa kriteria wanita yang memiliki gangguan syaraf pada jaman sekarang? Saat ini wanita yang memiliki gangguan syaraf mungkin tidak sama persis dengan kasus Dora, tetapi tidak jarang  kutemui phenomena seperti Dora, terutama pada masa remaja 15 an sampai 20-an, seperti contoh: biasanya para remaja (bahkan orang dewasa) pada masa-masa pubertas senang berada dalam lingkaran play game atas perasaanya sendiri; hidup dibuatnya seperti hal yang sangat konflik dan tidak bisa terselesaikan.

Menjelang dewasa ‘keruwetan mental’ ini biasanya akan berkembang lebih kompleks, umumnya wanita akan mengarahkan kepada hal-hal yang mengarah kepada femininity aktifitas. Lagi, hal ini mengingatkanku kepada sebuah salah satu phenomena yang umumnya terjadi pada wanita, seperti contoh saat wanita menggilai sebuah brand, seperti Gucci atau Prada, maka kita bisa menyebutnya sebagai Gucci atau Prada Hysteria!

Pada masa kini  hysteria mungkin sedikit berbeda dengan masa Freud. Aku mendapati bahwa aktifitas wanita pada sebuah tekhnologi device atau sosial network bukan lagi menjadi kebutuhan sekunder namun lebih kepada kebutuhan prima yang mengarah kepada hysteria: pameran photo pribadi, CV, beragam feelings, hingga silsilah keluarga tertera lengkap di profile facebook.

Umunya pengidap hyteria tidak menyukai kritikan tentang apapun pada dirinya dan sulit menentukan sikap pada saat menghadapi masalah — kesulitan ini umumnya dikarenakan si penderita yang kerap menggunakan kisah yang berbelit-belit dan tak berujung.

DBLN, 19.24-280311

1 comments:

uii profile on November 22, 2012 at 7:31 PM said...

saya mahasiswa dari Universitas Islam Indonesia
Artikel yang menarik, bisa buat referensi ini ..
terimakasih ya infonya :)

Post a Comment

 

Jurnal Psikologi Indonesia Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template and web hosting Vector by Dapino